Sabtu, Maret 8

Pemilu Oh, Pilu-Pilu(5 maret 2008)

5 Maret 2008

Pilkada di daerahku akhirnya digelar. dan daerahku benar-benar menjadi kota mati hari ini. jalanan sepi, kantor dan sekolah libur, toko-toko banyak yang tutup, pasar sepi. suasana semacam ini rutin aku rasakan tiap tahun sekali ketika lebaran. tapi Pilkada seperti akan menjadi 'lebaran' demokrasi. semua orang, tua muda, seakan digiring dalam kotak suara untuk menentukan siapa yang bakal jadi 'raja.'

Padahal, kalau mau jujur Pemilu itu tidak ada untungnya bagi Pak Rustam, Tukang becak yang selalu mengantar anak-anak di kampong saya ke sekolah. siapapun yang terpilih Pak Rustam akan tetap menjadi tukang becak. "Tapi karena Pilkada ini saya bisa dapat uang lima puluh ribu hanya sekedar stiker salah satu calon ditempel di becak saya,'' tandasnya.

Komentar senada juga diangkapkan Mbak Jah, pembantu saya. "Saya pilih yang mau kasih saya uang, mas. kali kandidat A kasih 25 ribu, sementara kandidat B kasi 50 ribu, ya saya pilih yang B saja," ungkapnya. Ah, benar juga, batin saya. Albert Camus khan pernah bilang, sungguh merupakan kegilaan jika ada orang yang bisa berbahagia hidupnya tanpa uang.

Tapi nasib masyarakat miskin tidak selesai setelah pembagian uang kampanye itu. Untuk sementara mungkin, ya. Tapi lima tahun ke depan bagaimana? Selama system yang diterapkan pemerintah masih menerapkan kebijakan sesuai dengan kaidah pasar dan mementingkan investor daripada kesejahteraan masyarakat, nasib masyarakat miskin tidak akan berubah.

Ah, seandainya saja Pak Rustam, Pak Samin, Mbak Jah lebih paham politik dan mengerti tentang kontradiksi-kontradiksi yang dibangun dalam system pemerintahan yang tidak pro rakyat, mereka (termasuk juga masyarakat miskin lain) tak perlu datang ke bilik-bilik suara, tak perlu menutup toko atau berhenti berjualan, karena tindakan itu sangat tidak efektif. dan barang siapa melakukan hal-hal yang tidak efektif sebenarny ia tengah mengalami ketertindasan.

Tapi pilkada telah dimulai dan saya menyaksikan jutaan orang datang ke bilik-bilik suara memilih dengan hati nurani (katanya) tapi tidak sadar bahwa mereka sedang menggali lubang kuburannya sendiri. dalam lima tahun kedepan, baik itu pemilihan Presiden, Gubernur dan Bupati/Walikota kehidupan masyarakat Miskin akan terus diwarnai dengan penindasan. Pemilu, Oh…Pilu-Pilu!

Pemilu Oh, Pilu-Pilu(5 maret 2008)

5 Maret 2008

Pilkada di daerahku akhirnya digelar. dan daerahku benar-benar menjadi kota mati hari ini. jalanan sepi, kantor dan sekolah libur, toko-toko banyak yang tutup, pasar sepi. suasana semacam ini rutin aku rasakan tiap tahun sekali ketika lebaran. tapi Pilkada seperti akan menjadi 'lebaran' demokrasi. semua orang, tua muda, seakan digiring dalam kotak suara untuk menentukan siapa yang bakal jadi 'raja'
Padahal, kalau mau jujur Pemilu itu tidak ada untungnya bagi Pak Rustam, Tukang becak yang selalu mengantar anak-anak di kampong saya ke sekolah. siapapun yang terpilih Pak Rustam akan tetap menjadi tukang becak. "Tapi karena Pilkada ini saya bisa dapat uang lima puluh ribu hanya sekedar stiker salah satu calon ditempel di becak saya,'' tandasnya.

Komentar senada juga diangkapkan Mbak Jah, pembantu saya. "Saya pilih yang mau kasih saya uang, mas. kali kandidat A kasih 25 ribu, sementara kandidat B kasi 50 ribu, ya saya pilih yang B saja," ungkapnya. Ah, benar juga, batin saya. Albert Camus khan pernah bilang, sungguh merupakan kegilaan jika ada orang yang bisa berbahagia hidupnya tanpa uang.

Tapi nasib masyarakat miskin tidak selesai setelah pembagian uang kampanye itu. Untuk sementara mungkin, ya. Tapi lima tahun ke depan bagaimana? Selama system yang diterapkan pemerintah masih menerapkan kebijakan sesuai dengan kaidah pasar dan mementingkan investor daripada kesejahteraan masyarakat, nasib masyarakat miskin tidak akan berubah.

Ah, seandainya saja Pak Rustam, Pak Samin, Mbak Jah lebih paham politik dan mengerti tentang kontradiksi-kontradiksi yang dibangun dalam system pemerintahan yang tidak pro rakyat, mereka (termasuk juga masyarakat miskin lain) tak perlu datang ke bilik-bilik suara, tak perlu menutup toko atau berhenti berjualan, karena tindakan itu sangat tidak efektif. dan barang siapa melakukan hal-hal yang tidak efektif sebenarny ia tengah mengalami ketertindasan.

Tapi pilkada telah dimulai dan saya menyaksikan jutaan orang datang ke bilik-bilik suara memilih dengan hati nurani (katanya) tapi tidak sadar bahwa mereka sedang menggali lubang kuburannya sendiri. dalam lima tahun kedepan, baik itu pemilihan Presiden, Gubernur dan Bupati/Walikota kehidupan masyarakat Miskin akan terus diwarnai dengan penindasan. Pemilu, Oh…Pilu-Pilu!

Rabu, Maret 5

Akulah Do'a

Maka Akulah Doa


Maka akulah doa yang terpahat dari batu terkutuk.
Malam jatuh pada suara mantraku
Lalu tumbuh dusundusun tanpa penghuni ketika bulan memilih sabit
Dan kalelawar membangun sarang di gedung pencakar langit


Kudendangkan lagi koor para nelayan
Seperti Nuh yang terombang ambing badai diatas kapal
Sayupsayup terdengar suara sangkakala
Dan kematian pun hinggap!

Maka aku pun bersiap dibaca ribuan jiwa
hingga menjelma bungabunga

Madura, Maret 2008